Ngawi, suaraharapan.online
Perayaan Natal dan Tahun Baru ( Nataru ) di Kabupaten Ngawi Jawa Timur 2025 – 2026 terkesan tidak semeriah tahun – tahun sebelumnya. Ada beberapa penyebab yang memicu terjadinya fenomena tersebut.
Ada yang mendasar pada keadaan global secara menyeluruh secara nasional, tapi ada juga yang lebih dikarenakan oleh situasi dan kondisi yang signifikan terjadi di Kabupaten Ngawi.
Secara global banyak Pengamat Ekonomi mengatakan karena situasi moneter nasional yang tidak baik-baik saja, tapi juga karena beberapa hal yang berdampak kepada perayaan Nataru 2025-2026 di Ngawi tidak semeriah seperti tahun sebelumnya.
Kita lihat dari dekat mengenai keadaan geografi dan demografi Kabupaten Ngawi yang mempunyai wilayah sekitar 1.298,58 km2 terdiri dari daratan dan persawahan boleh dikatakan sebagai daerah agraris yang sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani atau buruh tani.
Menurut catatan di Badan Pusat Statistik ( BPS ) setempat diakhir tahun 2024 mempunyai penduduk 907.002 jiwa dengan pertumbuhan terus meningkat dari tahun ketahun.
Selain itu perlu juga diketahui bahwa Kabupaten Ngawi dibelah oleh dua sungai besar yaitu Bengawan Solo dan Sungai Madiun.
Nuansa kemeriahan perayaan Nataru pada umumnya didominasi oleh kalangan remaja. Bicara ‘ remaja ‘ adalah mereka yang belum berpenghasilan dan mengandalkan pemberian dari orang tua mereka.
Terkait hal tersebut perlu dikaji bagaimanakah keberadaan keuangan para orang tua di Kabupaten Ngawi tentunya tidak bisa lepas dari kondisi keuangan global secara nasional jang mana sangat terdampak oleh cuaca ekstrem yang melanda Indonesia.
Sedangkan untuk Ngawi khususnya penghasilan perkapita penduduknya sangat tergantung pada hasil panen. Dengan adanya musim tanam dan musim panen yang tidak bisa serentak bersamaan juga berpengaruh.
Faktor lain adalah tersumbatnya kran pengucuran Dana Desa (DD) kepada 27 desa sekabupaten Ngawi. Hal tersebut mengakibatkan tidak terpikirkan oleh para Kepala Keluarga untuk memanjakan anak- anaknya melainkan mengutamakan periuk nasinya, demikian hasil perbincangan wartawan dengan sebagian besar penduduk setempat di lapangan,
Kendati secara keseluruhan pada Panen Raya di Kabupaten Ngawi sampai akhir tahun 2025 tetap masih bertahaan menjadi Lumbung Padi untuk Jawa Timur bahkan secara nasional.
Bagaimanakah cerita muda-mudi saat diwawancarai awak media di berbagai penjuru daerah Kabupaten Ngawi ? Di dalam obrolan dengan mereka dapat disimpulkan bahwa mereka tidak begitu mendapat support dari orang tua mereka dan hal tersebut juga disadarinya.
Faktor berikutnya dia terbentur kepada peraturan atau kebijakan bahwa di Lapangan Medeka Alun-alun Ngawi dimana pada Nataru ditahun-tahun sebelumnya adalah tempat berkumpulnya muda-mudi untuk menyaksikan maraknya Pesta Kembang api tapi
Namun di tahun ini ditiadakan dan masyarakatpun tidak diperbolehkan menggelar Pesta Kembang Api sendiri, jadi kami tidak bisa berbuat banyak untuk menyemarakkan Nataru 2025-2026 “,
Demikian yang disampaikan oleh mereka.
Sementara dari Pihak Terkait yang dikonfirmasi oleh Awak Media menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan tindakan preventif untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan termasuk masalah Kamtibmas dan menyikapi perekonomian penduduk yang relatif tidak mendukung. ( pdy- SH )
















