banner 728x250

Bupati Subandi Resmikan Wisata Petik Melon BUMDes Candinegoro, Kecamatan Wonoayu

Sidoarjo, suaraharapan

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gapura
Desa Candinegoro Kecamatan Wonoayu, meluncurkan inovasi wisata edukasi
berbasis pertanian modern. Wisata itu secara resmi dibuka oleh Bupati Sidoarjo, H. Subandi, Sabtu (5/9/2026).

BUMDes tersebut menyuguhkan sensasi wisata petik melon hidroponik langsung dari
pohonnya. Langkah kreatif warga Desa Candi Negoro ini berdiri di atas lahan
greenhouse seluas 400 meter persegi.

Sebanyak 1.030 bibit melon varian
unggulan yakni Intanon dan Sakata, dibudidayakan secara intensif oleh pemuda
desa setempat, Bupati Sidoarjo H. Subandi mengapresiasi tinggi terobosan BUMDes Gapura.

Menurutnya, inovasi ini tidak hanya menjadi simbol penguatan ketahanan
pangan tingkat desa, tetapi juga motor penggerak perekonomian masyarakat yang
patut dicontoh wilayah lain.


“Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkomitmen melakukan pengawalan dan
siap mengucurkan bantuan bagi perkembangan BUMDes. Sebab, setiap desa
di Sidoarjo memiliki keunikan dan potensi ekonomi yang berbeda-beda,” tegas Subandi
usai memetik melon perdana.

Subandi menambahkan, pemanfaatan potensi lokal, baik budidaya cabai, sayuran,
perikanan, maupun sektor kuliner, harus terus didorong. Jika setiap desa mandiri
mengelola potensinya melalui BUMDes, ketahanan ekonomi daerah akan semakin
kokoh.

Bupati Subandi bersama jajaran pejabat daerah, sempat keliling area greenhouse,
memetik, lalu mencicipi langsung melon varietas Intanon yang baru saja dipotong.
“Rasanya manis banget, beda dan lebih lezat dari melon pada umumnya,” puji
Subandi.

Disebutnya, model pertanian modern ini bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan
solusi atas ancaman cuaca ekstrim yang kerap menghantui petani konvensional. Di
dalam greenhouse, suhu dan kelembapan terkontrol ketat, menjaga tanaman dari
serangan hama dan curah hujan berlebih.

“Kalau di sawah pas hujan sering gagal. Di sini lebih aman. Sekali tanam butuh waktu
70 hari untuk panen. Pendapatannya juga bagus, sekali panen bisa sampai Rp 35 juta
lebih. Desa-desa lain yang punya lahan kosong harus meniru langkah inovatif
BUMDes ini,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua BUMDes Gapura Candi Negoro, Ahmad Wildani Arifana,
menjelaskan alasan di balik pemilihan komoditas melon. Menurutnya, melon merupakan buah populer yang digemari seluruh kalangan masyarakat, mulai dari
anak-anak hingga orang tua, karena rasanya yang manis dan segar.

Pihaknya menerapkan metode smart farming dalam pengelolaan greenhouse
tersebut. Integrasi teknologi dalam pertanian hidroponik ini mempermudah
pemantauan tumbuh kembang tanaman secara menyeluruh—mulai dari sistem
perakaran, batang, hingga pembentukan buah.

“Melalui sistem ini, pengelola tidak perlu lagi mengecek kondisi fisik tanaman secara
manual setiap pagi dan sore. Pemantauan parameter krusial seperti suhu, pH air, dan
kecukupan nutrisi dapat terpantau efisien melalui layar monitor,” jelas Wildani.

Kualitas melon yang dihasilkan melalui metode hidroponik ini dijamin masuk
kategori kelas premium. Karakteristik daging buah lebih renyah, kadar kemanisan
tinggi serta tampilan warna dan bentuk yang lebih presisi ketimbang budidaya konvensional di lahan terbuka.

Sistem pemasaran hasil panen ini mengusung konsep wisata edukasi petik
dengan harga Rp30.000 per kilogram. Omset langsung panen diperkirakan menembus
angka 1,5 ton, dengan bobot per buah bervariasi antara 1,2 kilogram hingga 2,6
kilogram. (Kin)

banner 325x300