banner 728x250

Warga Sidoarjo Dibekali Pemahaman Potensi Gempa Bumi

Sidoarjo, suaraharapan.online

Sejumlah warga Sidoarjo mengikuti kegiatan Sekolah Lapang
Gempa Bumi (SLG) yang digelar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
(BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Sabtu, (17/10/2026).

Berbagai materi disampaikan pada SLG yang digelar di pendopo Delta Wibawa itu.
Mulai dari pemahaman potensi gempa bumi sampai kesiapsiagaan dalam
menghadapinya.
Peserta SLG 2026 berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari Aparat TNI, Polri, ASN
sampai masyarakat umum. Jumlahnya 53 peserta.

Kegiatan SLG sehari penuh itu dibuka Asisten Administrasi Perekonomian dan
Pembangunan Setdakab Sidoarjo Moh. Bahrul Amig. Hadir langsung dalam kegiatan
tersebut Kepala Stasiun Geofisika Malang Ricko Kardoso serta Direktur Gempa Bumi
dan Tsunami BMKG Wijayanto dan Anggota Komisi V DPR RI Arizal Tom Liwafa yang
hadir secara daring.
Mewakili Bupati Sidoarjo H. Subandi, Asisten Administrasi Perekonomian dan
Pembangunan Setdakab Sidoarjo Moh. Bahrul Amig menyampaikan bahwa
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menyambut baik penyelenggaraan SLG di Kabupaten
Sidoarjo.

Menurutnya kegiatan tersebut sangat strategis dalam memperkuat mitigasi dan
kesiapsiagaan daerah akan potensi bencana gempa.
Disampaikannya bahwa data serta informasi yang disajikan oleh BMKG bukan
sekadar perkiraan atau ramalan semata. Namun merupakan petunjuk arah yang
penting bagi keberlangsungan hidup ekonomi dan keselamatan manusia.

“Keselamatan nyawa warga Sidoarjo dari ancaman bencana tektonik menjadi prioritas
utama kami. Mengingat posisi wilayah kita berada dalam dinamika potensi
kebencanaan di Jawa Timur, kita tidak boleh bersikap acuh tak acuh,” ungkap Moh.
Bahrul Amig.
Dia juga mengatakan kewaspadaan potensi bencana gempa bukannya tanpa alasan.

Peristiwa bencana gempa bumi berkekuatan besar yang melanda berbagai wilayah di
Indonesia beberapa waktu lalu menjadi pengingat penting akan dampak destruktif
bencana tektonik. Seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur.
Kita tidak bisa mencegah gempa bumi terjadi, tetapi kita bisa menekan dampaknya
seminimal mungkin. Kuncinya terletak pada edukasi berkelanjutan dan kesadaran
masyarakat agar senantiasa siap dan tanggap menghadapi segala kemungkinan,”
lanjutnya.

Di katakannya juga bahwa guncangan gempa yang kerap merambat hingga ke
pemukiman warga kerap memicu kepanikan massal. Oleh karenanya pentingnya SLG
seperti ini yang dapat mengedukasi masyarakat Sidoarjo agar siap dan tanggap
menghadapi potensi bencana. Untuk itu ia meminta para peserta dapat aktif
membagikan ilmu dan keterampilan yang didapat dalam SLG kepada keluarga serta
lingkungan tempat tinggal masing-masing.
“Mari kita ubah rasa takut dan panik masyarakat menjadi kesiapsiagaan nyata. Saya
berharap para peserta dapat meneruskan materi edukasi ini kepada keluarga mereka,
sehingga masyarakat Sidoarjo senantiasa siap dan tanggap menghadapi potensi
bencana,” pungkasnya.

Kepala Stasiun Geofisika Malang Ricko Kardoso mengatakan kegiatan SLG
diselenggarakan sebagai langkah meningkatkan pemahaman serta kesiapsiagaan
masyarakat dalam menghadapi potensi ancaman bencana kegempaan.

Dikatakannya pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa Bumi memiliki peran yang sangat
krusial dalam menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami yang tergolong rawan
terjadi seluruh daerah di Indonesia.

“Kegiatan ini sangat penting. Wilayah Indonesia merupakan daerah yang rawan
gempa bumi dan tsunami. Karena itu, sebelum bencana terjadi, langkah
kesiapsiagaan sangat perlu dilakukan secara masif, salah satunya melalui Sekolah
Lapang Gempa Bumi ini,” ujarnya.

Ricko juga mengungkapkan peta kerawanan di wilayah Sidoarjo. Disampaikannya
bahwa berdasarkan kajian terbaru dari Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) tahun
2024, telah terpetakan berbagai sumber bahaya kegempaan di Indonesia. Salah satu
sumber gempa bumi terdekat yang melintasi wilayah Sidoarjo adalah Sesar Waru.

Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, Sesar Waru diidentifikasi memiliki potensi
memicu gempa bumi hingga magnitudo 6,8. Meski demikian, BMKG meminta
masyarakat untuk tidak panik secara berlebihan melainkan fokus pada langkahlangkah mitigasi.

“Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak panik, serta selalu memantau informasi resmi dari BMKG. Jangan mudah percaya dengan isu atau kabar burung yang
menyebutkan bahwa gempa bumi dapat diprediksi akan terjadi dalam waktu dekat,”
tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi di dunia yang mampu
memprediksi waktu, lokasi, dan besaran magnitudo gempa bumi secara pasti dan
detail. Yang ada saat ini adalah perhitungan potensi.

“Yang ada saat ini adalah perhitungan potensi. Keberadaan potensi inilah yang harus kita respons dengan kesiapsiagaan mengenali apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah gempa bumi terjadi,” pungkas Ricko.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Sidoarjo Sabino Mariano mengatakan bahwa
instansinya sudah bergerak cepat dalam merespons potensi bencana Sesar Waru dan
Sesar Surabaya. BPBD Sidoarjo juga bakal mengintensifkan edukasi mitigasi secara langsung kepada masyarakat melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana) serta jaringan sekolah. Edukasi tersebut akan diprioritaskan pada wilayah-wilayah yang terlintasi struktur patahan atau sesar aktif.

“Sesuai informasi dan kajian dari BMKG, kita harus mengantisipasi potensi Sesar
Waru dan Sesar Surabaya. Kami akan melakukan edukasi teknis secara langsung ke masyarakat melalui program Desa Tangguh Bencana,” ujarnya.

Disampaikannya juga bahwa dalam pelaksanaannya tersebut, BPBD Sidoarjo tidak bergerak sendiri. BPBD akan memperkuat kolaborasi lintas instansi dengan menggandeng BMKG, TNI, Polri, Basarnas, hingga jajaran stakeholder terkait dan forum relawan kebencanaan.

“Edukasi Destana saat ini mulai difokuskan pada kawasan-kawasan rentan, seperti di
Kecamatan Waru, Tanggulangin, Porong, dan wilayah sekitarnya. Diharapkan alumni
peserta pelatihan bencana dan elemen masyarakat dapat terlibat aktif mengedukasi
warga sekitar,” harapnya.

Tidak hanya menyasar tingkat desa, upaya mitigasi juga menyentuh sektor pendidikan
melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang telah berjalan sejak
awal tahun.

“Edukasi di sekolah-sekolah melalui program sekolah aman bencana sudah kita
jalankan sejak awal tahun. Ke depan, intensitas edukasi kebencanaan ini akan terus kita perbanyak, baik di tingkat desa maupun lingkungan sekolah,” pungkasnya.

Sementara itu dalam kegiatan SLG tersebut, para peserta dibekali dengan beragam
materi komprehensif yang dirancang untuk meningkatkan literasi dan ketangguhan
bencana secara menyeluruh. Peserta diajak memahami dasar-dasar ilmu kegempaan,
mulai dari struktur bumi, jenis-jenis gempa seperti gempa tektonik dan vulkanik hingga
pemetaan sumber patahan lokal (sesar).

Peserta SLG juga dikenalkan dengan mekanisme kerja sistem peringatan dini
nasional, seperti Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) dan
Earthquake Early Warning System (EEWS). Selain itu peserta juga mendapatkan
pelatihan teknik perlindungan diri mandiri dengan metode Drop, Cover, and Hold On
(merunduk, lindungi kepala di bawah meja, dan berpegangan). Sebelumnya peserta
juga diukur sejauh mana peningkatan pemahaman dan kesiapsiagaan lewat pre-test dan post-test di awal serta akhir kegiatan. (Kin)

banner 325x300