Sidoarjo, suaraharapan.online
UMKM herbal teh daun kumis kucing di Dusun Girang, Desa
Wonokupang, Kecamatan Balongbendo, menarik perhatian Wakil Bupati Sidoarjo Hj.
Mimik Idayana. Dengan khasiatnya yang tinggi, ia berharap produk herbal itu dapat
dikembangkan.
Selasa (4/8) pagi, Wabup Mimik melihat langsung proses pembuatan herbal teh daun
kumis kucing. Herwanto, pemilik produk Herbaroso teh daun kumis kucing itu, juga
mengajaknya untuk ikut memanen daun kumis kucing.
Herwanto menanam tumbuhan kumis kucing di lahan seluas 500 meter persegi. Sejak
setahun lalu, pria yang juga seorang anggota TNI AL aktif itu mulai menanamnya
dengan memanfaatkan lahan tidak produktif.
Wabup Mimik mengapresiasi jerih payah Herwanto yang mampu membuat produk
herbal teh daun kumis kucing. Menurutnya, produk Herbaroso akan menjadi produk
UMKM herbal yang banyak diminati masyarakat. Oleh karena itu, ia meminta
masyarakat dapat juga menanam tanaman herbal tumbuhan kumis kucing.
”Tanaman Toga itu sebenarnya banyak sekali, tetapi kita mulai dengan tanaman kumis
kucing. Ini adalah salah satu contohnya, dengan menanam tanaman kumis kucing bisa
menghasilkan uang. Perputaran perekonomian di desa ini Insya Allah akan lebih
cepat,” ucapnya.
Ia berharap Desa Wonokupang dapat menjadi percontohan desa dengan produk
UMKM herbal. Lahan-lahan yang tidak produktif dapat dimanfaatkan untuk menanam
tumbuhan kumis kucing. Ia melihat banyak sekali lahan-lahan di desa yang tidak
produktif.
”Ini harus kita kembangkan dan ini udah ada salah satu contohnya. Ayo ben desadesa liyane melok-melok. Karena di desa itu banyak sekali lahan-lahan yang tidak
berfungsi. Nah ayo dimanfaatkan,” ajaknya.
Wabup mengakui tumbuhan kumis kucing sudah terbukti berkhasiat bagi kesehatan.
Pemanfaatannya pun sangat mudah. Cukup dengan menyeduh daunnya, manfaat
tumbuhan kumis kucing dapat langsung dirasakan.
”Manfaat tumbuhan kumis kucing ini sangat bagus sekali bagi kesehatan, murah
meriah, cukup diseduh, khasiatnya langsung topcer,” ujarnya.
Herwanto mengatakan, ide pembuatan teh daun kumis kucing berawal dari
keprihatinannya pada kenaikan kasus pasien gagal ginjal di Indonesia. Data dari
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, kasus gagal ginjal di Indonesia melonjak
hingga ratusan persen. Berlatar belakang tenaga kesehatan TNI Angkatan Laut,
Herwanto tergugah. Ia mulai menanam tumbuhan kumis kucing.
”Pada tahun 2025 Menteri Kesehatan menyatakan seperti itu. Saya seorang nakes,
jadi saya harus berupaya menolong masyarakat walaupun tanpa dukungan siapapun.
Karena saya dulu pernah disumpah untuk membantu masyarakat, menolong
masyarakat. Terciptalah ini karena teh kumis kucing ini komposisinya nomor satu
untuk ginjal,” paparnya.
Herwanto menuturkan, mengawali budidaya tumbuhan kumis kucing tidaklah mudah.
Bibit tumbuhan asli Indonesia itu sulit sekali didapatkannya. Namun, dengan tekad
untuk menolong masyarakat, akhirnya ia berhasil membudidayakan tumbuhan kumis
kucing. Dari lahan pekarangan rumah miliknya, ia berhasil memanen ratusan kilo daun
kumis kucing yang siap diolah menjadi daun teh.
”Jadi lahan yang saya punya ini adalah lahan pekarangan rumah. Di lahan tidur yang
nggak produktif saya jadikan produktif. Saya tanam tumbuhan kumis kucing ini karena
sangat bermanfaat bagi kesehatan terutama kesehatan ginjal,” katanya.
Herwanto mengatakan, tanaman kumis kucing merupakan tanaman unggulan
Indonesia. Banyak sekali manfaatnya. Selain untuk kesehatan ginjal, dapat juga untuk
mengobati hipertensi, gula darah, maupun asam urat dan rematik.
Menurutnya, merawat tanaman kumis kucing sangat mudah. Bahkan, bisa dibilang
minim perawatan. Cukup dikasih pupuk, tanaman kumis kucing dapat tumbuh subur.
Tidak perlu obat-obatan pestisida karena tanaman kumis kucing antihama.
Masa panennya pun cukup singat. Tanaman kumis kucing dapat dipanen dalam 1,5
bulan sejak ditanam. Lalu, dapat dipanen lagi dalam periode yang sama selama tiga
tahun masa produktivitasnya.
”Kalau tanaman kumis kucing aman sekali dari hama apapun. Coba dilihat daunnya,
ada yang bolong nggak? Ini tanpa pestisida, tanpa semprot. Kita rawat saja dengan
menyiram air dan kita cabut rumputnya,” jelasnya.
Herwanto mengungkapkan, saat ini ada sekitar sepuluh orang petani tanaman kumis
kucing yang menjadi mitranya. Dari para petani tersebut, ia mengumpulkan 700–800
kg daun kumis kucing setiap bulan. Harga daun basah yang sudah tercacah Rp 3 ribu
per kg.
Ia mengatakan, kebutuhan tanaman kumis kucing untuk produk tehnya masih cukup
besar. Karena itu, dirinya siap menampung tanaman kumis kucing dari para petani
lainnya.
”Daripada nandur yang lain mending nandur tanaman kumis kucing, karena tidak ada
yang namanya hama. Masa produktivitasnya dua sampai tiga tahun ke depan. Semisal
modal pertama itu bisa kembali antara setengah sampai 1 tahun, 2 tahun selanjutnya
adalah untung sampeyan. Berapa per kilo? Tiga ribu rupiah. Langsung potong, kirim
ke rumah saya,” ujarnya. (Kin)
















